Unsur-Unsur Puisi

Secara konvensional, sastra terdiri atas tiga genre, yakni puisi, prosa dan drama. Puisi merupakan salah satu genre yang paling tua. Jika ditelusuri, telah banyak definisinya. Dalam pandangan tradisional, puisi merupakan ragam sastra yang terikat oleh unsur-unsurnya, seperti irama, rima dalam Puisi, matra, baris dan bait.


Namun, hingga saat ini belum ada definisi yang pas mengenai puisi. Hal itu dikarenakan wujud puisi selalu mengalami perubahan. Walaupun demikian, tetap terdapat patokan untuk memahami puisi. Sebab, jika hanya melihat bentuk visualnya saat ini, pembaca akan kesulitan membedakan antara puisi dan prosa.


Puisi mengekpresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan karya seni yang puitis. Kepuitisan itu dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi, persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambing rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata, bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan lain-lain.


 Unsur-unsur puisi yang dibahas berikut ini adalah sebagai berikut.

- Unsur Pembentuk Puisi

- Struktur Puisi

- Unsur Intrinsik Puisi


1.      Bunyi
Dalam puisi, bunyi digunakan sebagai orientasi untuk menimbulkan musik. Dari bunyi, musik tersebut dapat mengaliri perasaan, imajinasi, dalam pikiran atau pengalaman pembaca. Bunyi juga digunakan sebagai peniru bunyi (onomatope), lambang suara, dan kiasan suara.


2.      Irama
Irama merupakan bunyi yang berulang-ulang, pergantian teratur, dan variasi-variasi bunyi. Irama dapat dibedakan menjadi metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap, arti pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Ritme adalah irama yang disebabkan oleh pertentangan bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi bukan merupakan jumlah suku kata yang tetap.


3.      Kata
Menurut S. Mulyana, puisi mempunyai nilai seni apabila pengalaman jiwa yang menjadi dasar dapat dijelmakan dalam kata. Gramatika yang membahas efek dan kesan yang ditimbulkan oleh pemilihan kata dan penyusunan kata disebut stilistika, sedangkan yang membicarakan kaidah-kaidah bahasa disebut tata bahasa normaif. Unsur kata terdiri atas kosa kata, pemilihan kata atau diksi, serta denotasi dan konotasi.
a.       Kosa kata
Kosa kata yang digunakan dalam puisi dapat berupa kata-kata bahasa sehari-hari dan kata-kata indah. Kosa kata sehari-hari menimbulkan efek gaya realis, dan kata-kata indah menimbulkan efek romantis.
b.      Pemilihan kata atau diksi dalam puisi
Pemilihan kata diperlukan untuk mengekspresikan maksud penyair. Pemilihan kata perlu pertimbangan perbedaan arti secara cermat.
c.       Denotasi dan konotasi
Denotasi dan konotasi digunakan untuk menimbulkan gambaran yang jelas dan padat. Denotasi merupakan makna sebenarnya, sedangkan konotasi adalah makna tambahan.
d.      Gaya Bahasa/ Bahasa Kiasan
Gaya bahasa atau bahasa kiasan berguna untuk menghidupkan kalimat dan memberi gerak pada kalimat. Gaya tersebut dapat menimbulkan reaksi pikiran kepada pembaca.
e.       Citraan
Citraan merupakan gambaran angan dalam puisi. Sedangkan citra atau imaji merupakan gambaran pikiran. Gambar pikiran merupakan efek dalam pikiran yang dihasilkan oleh pengungkapan sebuah objek yang dilihat oleh mata.
f.      Faktor Linguistik


Faktor-faktor yang linguistik yang mungkin terdapat dalam sebuah puisi antara lain.
1)      Pemendekan kata dilakukan untuk mendapatkan irama yang menyebabkan liris.
2)      Penghilangan imbuhan dilakukan untuk melancarkan ucapan, berirama, dan pemendekan kata.
3)      Penyeimbangan struktur sintaksis dilakukan untuk mendapatkan irama yang liris, kepadatan, dan ekspresivitas.

 

Source : http://cecillexwong.tumblr.com/post/151241116963/puisi-dan-unsur-unsurnya

Write a comment

Comments: 0